Li Wei mendengus kesal dan menoleh, menunjukkan ketidakpuasannya. Lynx menghela napas pendek, lalu mengeluarkan sebuah pedang indah khusus wanita dari cincin penyimpanannya. Bilah pedang itu berkilau dalam cahaya ruangan, berwarna perak dengan pola ukiran naga yang tampak hidup, sisiknya terukir dengan detail menakjubkan. Aura tajam dan dingin menyelimuti bilah pedang, menandakan kualitasnya yang tak tertandingi.

“Ini untukmu,” ujar Lynx seraya menyerahkan pedang itu. “Aku juga akan memberimu pil yang dapat meningkatkan kekuatanmu kelak, setelah aku menemukan bahan-bahan yang kuperlukan.”

Tatapan Li Wei langsung berubah cerah saat menerima pedang tersebut. Dia mengelus bilah pedang itu dengan penuh kekaguman. “Pedang ini... benar-benar luar biasa!” Ucapannya penuh semangat, dan wajahnya kembali berseri-seri. “Benarkah senjata ini untukku? Darimana kamu mendapatkannya?"

Lynx menganggukkan kepalanya."Senjata ini usianya cukup lama, tapi aku yakin kekuatannya masih bagus dan dapat kami gunakan. Yang pasti ini bukan barang curian ya, jadi kamu tidak perlu khawatir."

Lala merasa gembira, "Baiklah, aku akan tinggal di sini dan mengumpulkan informasi untukmu.”

Lynx tersenyum puas. “Bagus. Sekarang, mari kita keluar mencari Ling Mei dan Lala.”

Mereka berjalan menyusuri lorong panjang yang diterangi lentera minyak. Cahaya temaram menggambarkan bayangan mereka di dinding batu yang dingin. Suara langkah kaki mereka bergaung pelan hingga mendekati area pertemuan.

Di persimpangan lorong, mereka berpapasan dengan Leena dan Lala yang baru saja kembali dari ruang pertemuan. Setelah Lynx pergi, para tetua dan leluhur bertanya kepada Ling Mei mengenai apa yang dia ketahui sehingga terkena racun, dan hubungannya dengan Plasura. Karena para tetua merasa Ling Mei sudah mengenal Plasura sejak lama.

Lala mengangkat tangan dan melambai. “Lynx, kukira kamu akan meninggalkanku. Apa rencanamu selanjutnya?”

Lynx baru saja hendak menjawab ketika dari balik pintu besar yang dihias pola naga api, Leluhur Sekte Api Langit muncul bersama beberapa tetua. Mata Leluhur tiba-tiba terbelalak saat mengenali sosok Plasura dalam wujud Xiao Ling. Keterkejutan sesaat muncul di wajahnya sebelum segera disembunyikan.

Salah satu tetua yang berdiri di samping Leluhur buru-buru berbicara, “Anak muda itu adalah Xiao Ling. Dia orang yang diutus oleh Walikota Huoling untuk membawakan obat bagi Ling Mei. Berkat obat itu, Ling Mei yang jiwanya terluka menjadi pulih kembali.”

Leluhur mengangguk pelan, memandang Lynx dengan tatapan mendalam. Dalam benaknya, dia mengingat janji untuk menjaga rahasia identitas asli Plasura. Namun, kenyataan bahwa orang yang sama kini berdiri di markas besar sektenya membuatnya sedikit waspada.

“Baiklah, baiklah. Aku tidak menduga saja ada orang asing di tempat kita,” ucap Leluhur dengan nada tenang, kemudian berbalik pergi diikuti oleh para tetua lainnya. Mereka harus menemui para tamu yang datang dan menjelaskan apa yang telah terjadi.

Para tamu dari berbagai tempat datang untuk memastikan berita kematian ketua Sekte dan juga ikut berkabung. Mereka turut bersedih atas musibah yang menimpa sekte Api Langit. Sebagai sekte terbesar di kerajaan Qingxuan, sekte Api Langit sudah banyak berjasa membantu berbagai pihak.

Keesokan harinya, suasana Sekte Api Langit dipenuhi kabut pagi yang tebal. Terlihat para murid sedang sibuk menyiapkan upacara untuk ketua sekte mereka, dan sebagian melayani tamu yang hadir. Leena sebagai murid senior dan kekuatannya yang masih normal, diberikan tugas untuk menjaga ketertiban yang ada.

Lynx dan Lala berjalan menuju ruang pertemuan utama untuk bertemu dengan leluhur sekte. Para guru yang berjaga di pintu segera menghadangnya dengan ekspresi waspada. “Leluhur tidak dapat diganggu sekarang, terutama dalam kondisi seperti saat ini, tidak sembarang orang bisa menemui leluhur.” salah satu guru berkata dengan nada tegas.

Namun Leena yang saat itu sedang ada disana melayani tamu, melihat kehadiran Lynx, dan mendengar penolakan dari guru tersebut. Dia langsung mendekat dan membela, “Salam Guru. Leluhur sudah berpesan bahwa Xiao Ling kini menjadi salah satu tamu kehormatan di sekte kita, dan leluhur berpesan agar semua tamu di layani dengan baik. Jika Leluhur mendengar bahwa Xiao Ling ingin menemuinya, pasti beliau akan bersedia.”

Guru yang berjaga, mendengar ucapan Ling Mei tampak ragu, namun akhirnya berbalik masuk untuk menyampaikan pesan kepada tetua. Beberapa saat kemudian, ia kembali bersama seorang tetua dengan ekspresi terkejut, dia tidak menduga bahwa leluhur bersedia menemuinya. “Leluhur menunggumu di ruang pertemuan, ikuti aku!”

"Tetua, izinkan murid yang mengantar. Tetua tentu sedang diperlukan di tempat ini." Leena menawarkan dirinya sambil menundukkan badan memberi hormat.

"Baiklah, antarkan dia ke ruang pertemuan. Tapi pastikan, dia tidak membuat leluhur marah." Kata tetua dengan tegas, tatapan tajamnya mengarah ke Lynx.

Li Wei yang melihat rombongan tersebut di kejauhan merasa penasaran dan ingin ikut serta, namun dia ditahan oleh gurunya untuk melayani tamu undangan sekte yang datang dari berbagai wilayah.

Dengan langkah mantap, Lynx, Ling Mei, dan Lala memasuki ruang pertemuan yang luas dan penuh ukiran kayu berlapis emas. Aroma dupa memenuhi udara, membuat ruangan terasa mistis dan khidmat.

Begitu pintu tertutup dan hanya mereka berempat yang berada di dalam ruangan, Leluhur langsung menatap Lynx dengan sorot mata tajam penuh penilaian. “Ada keperluan apa kamu menemuiku anak muda?"

Leluhur menatap ke arah Ling Mei dan Lala, seolah ingin mencari tahu apakah mereka berdua juga mengetahui sosok asli Plasura.

"Leluhur tidak perlu khawatir, mereka berdua juga mengetahui tentang saya." Lynx menjelaskan agar leluhur tidak khawatir.

"Baguslah. Aku sudah mendengar dari para tetua jika kamu berada di tempat ini untuk mengobati Ling Mei. Tidak kuduga, ternyata Plasura sebenarnya sudah berada di tempat ini. Pantas, pantas bisa dengan cepat menolong sekte ini,” ucap Leluhur sambil mengangguk pelan.

“Apakah kamu masih ingin membahas mengenai Ling Mei untuk mengikutimu?” Leluhur bertanya, langsung pada pokok masalah.

Lynx menggelengkan kepala. “Tidak, Leluhur. Namun, aku ingin mengobatimu.”

Leluhur mengerutkan kening. “Mengobatiku? Apa maksudmu? Aku baik-baik saja. Efek seranganmu kepadaku sudah hilang.”

Lynx tetap tenang dan menjelaskan, “Aku melihat tubuh Leluhur memiliki luka lama. Tanpa Leluhur sadari, luka tersebut mengandung racun yang menghambat kultivasi Leluhur. Itulah sebabnya hingga saat ini kekuatan Leluhur tidak mengalami kemajuan dan selalu merasakan sakit setelah usai berlatih.”

Pernyataan itu membuat Leluhur terkejut. Pandangannya menyipit, menyiratkan kecurigaan. “Benar apa yang kamu katakan. Aku selalu merasakannya setiap kali berlatih. Lalu apa yang dapat kamu lakukan?”

“Jika Leluhur mempercayaiku, aku bisa menyembuhkanmu. Namun, aku memerlukan bahan-bahan ini,” kata Lynx sambil mengeluarkan selembar kertas bertuliskan daftar bahan-bahan obat yang dibutuhkan.

Leluhur meneliti daftar tersebut. Nama-nama yang tercantum membuat alisnya terangkat. Beberapa bahan yang sulit di dapatkan seperti Thousand-Year Snow Root, Nirvana Flame Fruit, Purple Moon Flower, Solar Lotus Leaf, Yin Crystal Powder, and Night Dew Flower Essence. Semua bahan itu sangat berharga dan langka, namun Sekte Api Langit kebetulan memiliki persediaannya.

“Apakah kamu juga seorang alchemist?” tanya Leluhur penuh selidik.

Lynx tersenyum tipis. “Leluhur akan mengetahuinya sendiri nanti.”

"Selain daftar obat tersebut, saya ingin leluhur menyiapkan juga bahan ini setelah pengobatan leluhur selesai." Lynx menyodorkan kembali kertas catatan. Leluhur segera menyimpannya sesuai pesan Lynx, setelah selesai mengobatinya.

Setelah menghembuskan napas panjang dan melihat keyakinan di wajah Lynx, Leluhur akhirnya mempercayainya. “Ambilkan bahan-bahan ini dari gudang obat,” perintah Leluhur kepada salah satu tetua sekte yang berjaga.

Tetua yang menerima resep tersebut merasa kaget melihat harta berharga mereka kini akan dikeluarkan. Namun melihat keseriusan wajah leluhur, tetua tersebut tidak berani menolak.

Dengan segera, tetua tersebut memerintahkan para murid untuk mengambil bahan-bahan yang disebutkan. Setelah beberapa saat, bahan-bahan langka itu terkumpul dalam wadah khusus yang terbuat dari kristal giok murni, memancarkan cahaya lembut yang menenangkan.

Leluhur memandang Lynx dalam-dalam. “Ini bahan-bahan yang diperlukan. Semoga kamu tidak menyia-nyiakan bahan tersebut.”

Lynx memandang bahan-bahan itu dengan tatapan fokus dan penuh keyakinan. “Leluhur, tenang saja. Aku akan menggantinya jika terjadi kesalahan.”

